SAWITBAIK.ID, JAKARTA – Strategi pemupukan yang tepat menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan peningkatan produktivitas kelapa sawit. Dalam buku Manajemen Akar pada Kelapa Sawit karya Dr. Memet Hakim, dijelaskan bahwa secara umum terdapat dua jenis pupuk yang lazim digunakan di perkebunan sawit, yakni pupuk buatan (kimia) dan pupuk organik. Keduanya memiliki keunggulan sekaligus keterbatasan, sehingga tidak dapat diperlakukan secara terpisah.
Pupuk buatan atau pupuk kimia memiliki kelebihan utama pada kandungan hara yang tinggi dan kapasitas produksinya yang besar. Keunggulan ini membuat pupuk kimia mampu memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman dalam waktu relatif singkat. Namun, di sisi lain, penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus tanpa diimbangi bahan organik dapat menurunkan kualitas tanah dalam jangka panjang.
Sebaliknya, pupuk organik memiliki kandungan hara yang relatif lebih rendah dan tidak selalu stabil. Jumlahnya pun terbatas, bahkan cenderung menurun jika tidak dikelola dengan baik. Meski demikian, pupuk organik berperan penting dalam memperbaiki kondisi tanah dan mendukung sistem perakaran tanaman. Karena itu, buku tersebut menekankan bahwa penggunaan kedua jenis pupuk secara bersama-sama akan menghasilkan sinergi yang mampu meningkatkan produktivitas kelapa sawit secara lebih berkelanjutan.
Pupuk organik atau organic manure merupakan hasil pelapukan bahan organik, baik secara alami maupun dengan bantuan bioteknologi. Untuk kelapa sawit, bioaktivator yang direkomendasikan antara lain Orgadec dan Promi, produk Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia di Bogor. Bioaktivator berbentuk granuler ini mengandung dua jenis mikroba, salah satunya Trichoderma spp. yang bersifat antagonis terhadap penyakit busuk pangkal batang (Ganoderma), salah satu ancaman utama pada tanaman sawit.
Bioaktivator tersebut juga efektif digunakan untuk mengomposkan tandan kosong kelapa sawit yang memiliki kandungan lignin tinggi. Dengan prosedur yang tepat, kompos dapat terbentuk dalam waktu sekitar 12 hari. Prosesnya dimulai dengan mencacah tandan kosong, menumpuknya setebal sekitar 20 cm, lalu menaburkan bioaktivator sebanyak 2,5–5 kg per ton tandan kosong secara berlapis hingga ketinggian sekitar dua meter. Tumpukan kemudian ditutup plastik dan dijaga agar kadar air berada pada kisaran 40–50%.
Kompos yang baik setidaknya mengandung nitrogen minimal 1,5%, P?O? minimal 1,0%, dan K?O minimal 1,5%, dengan rasio C/N antara 12–15. Kompos ini dapat diperkaya dengan bioinsektisida untuk menekan hama uret (Oryctes rhinoceros) atau biofungisida untuk menekan perkembangan Ganoderma. Pada fase pembibitan dan tanaman belum menghasilkan, kompos juga dapat dikombinasikan dengan pupuk buatan.
Selain kompos dari tandan kosong, pupuk kandang juga menjadi sumber bahan organik penting. Kualitas pupuk kandang sangat beragam, tergantung jenis ternak dan pakannya. Kotoran ayam petelur dan sapi penggemukan (feedlot) dinilai lebih baik dibandingkan kotoran ayam pedaging atau sapi perah karena kandungan proteinnya lebih tinggi. Seluruh jenis pupuk kandang tersebut dapat dikomposkan, baik secara tunggal maupun sebagai campuran.
Buku ini menegaskan bahwa kompos merupakan bahan organik utama yang mampu memperbaiki tanah yang telah miskin unsur organik. Kompos meningkatkan kesuburan kimia, fisik, dan biologis tanah, memperbaiki struktur tanah agar lebih gembur, serta meningkatkan daya simpan air (water holding capacity). Dengan pH relatif netral hingga sedikit basa, kompos juga sangat sesuai diaplikasikan pada lahan gambut.
Sejumlah penelitian memperkuat manfaat tersebut. Studi yang dikutip dalam buku ini menyebutkan bahwa penggunaan tandan kosong kelapa sawit mampu meningkatkan pertumbuhan vegetatif, memperbaiki kandungan nitrogen, fosfor, dan kalium daun, serta meningkatkan produksi tandan buah segar hingga 23% pada tanah alluvial berpasir. Temuan ini menegaskan bahwa pupuk organik bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dari strategi peningkatan produktivitas sawit yang berkelanjutan. (T2)









