SAWITBAIK.ID, JAKARTA — Upaya China mengembangkan bibit kelapa sawit unggul ternyata melalui perjalanan panjang yang dimulai dari kegagalan komersial hingga riset lintas generasi. Kisah ini berawal dari Nanbin Farms, perusahaan milik negara di Kota Sanya, Provinsi Hainan, yang pada akhir dekade 1980-an sempat mengimpor bibit kelapa sawit cangkang tipis (tenera) dari Malaysia dan Zaire—kini dikenal sebagai Republik Demokratik Kongo.
Impor tersebut ditujukan untuk penanaman komersial baru sekaligus meningkatkan produktivitas perkebunan yang telah ada. Namun, ambisi itu tidak bertahan lama. Pada 1991, Nanbin Farms menghentikan produksi minyak sawit komersial akibat tingkat keuntungan yang rendah. Seiring keputusan tersebut, aktivitas penelitian kelapa sawit pun nyaris terhenti.
Kepala Kelompok Pengembangan Minyak Sawit di Institut Penelitian Karet, Akademi Ilmu Pertanian Tropis China, Zeng Xianhai, menuturkan bahwa delapan tahun setelah produksi dihentikan, kelapa sawit di China selama beberapa dekade hanya dimanfaatkan sebagai tanaman penghijauan dan tanaman hias.
Namun, justru dari pohon-pohon hias itulah riset baru bermula. Zeng menjadikan pohon-pohon sawit beserta keturunannya sebagai basis penelitian untuk mengamati sejauh mana tanaman ini mampu tumbuh dan beradaptasi dengan kondisi agroklimat China.
Ia menemukan pohon kelapa sawit yang tumbuh jauh di utara, di sekitar Dali, Provinsi Yunnan, pada garis lintang 25 derajat utara. Menariknya, pohon-pohon tersebut tetap berbunga dan berbuah secara normal. Menurut Zeng, keberadaan sawit di wilayah tersebut kemungkinan besar merupakan hasil kombinasi penanaman sebagai tanaman hias dan proses penyebaran alami.
Momentum penting datang pada 1998, ketika sebuah lembaga pemerintah pusat meminta Akademi Ilmu Pertanian Tropis China untuk memulai kembali uji coba penanaman kelapa sawit impor. Tujuannya jelas, yakni menjajaki kemungkinan pemenuhan pasokan minyak nabati domestik dan mengurangi ketergantungan pada impor.
Tugas tersebut diemban oleh Zeng bersama ahli karet Lin Weifu dan sejumlah peneliti lainnya. Upaya itu tidak instan. Setelah lebih dari 20 tahun penelitian dan kerja keras dua generasi peneliti—yang pada akhirnya dipimpin langsung oleh Zeng—China berhasil menghasilkan varietas kelapa sawit pertama yang mampu tumbuh dan berproduksi secara ekonomis di dalam negeri.
Pada 2021, lahirlah bibit sawit unggul bernama “Re-you 6”, yang mampu menghasilkan lebih dari 200 kilogram minyak sawit mentah (CPO) per mu atau sekitar 667 meter persegi. Varietas ini menjadi tonggak penting dalam sejarah pengembangan sawit China.
Mengutip laporan Chinadialogue, para peneliti China juga telah mengembangkan berbagai varietas bibit sawit lain dengan karakteristik spesifik, seperti tahan terhadap suhu dingin, berproduksi tinggi, berkadar asam oleat tinggi, berbuah tanpa biji, memiliki tangkai buah panjang, serta pertumbuhan tinggi yang lebih lambat sehingga memudahkan proses panen.
Terobosan lain dicapai pada 2017, ketika tim peneliti menyelesaikan uji penanaman kelapa sawit skala pertama di China yang berasal dari kultur jaringan. Metode ini memungkinkan proses pemuliaan varietas baru berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan cara tradisional, dengan bibit yang sangat homogen dan mudah diperbanyak.
Dalam laporan mengenai varietas baru tersebut yang dimuat Hainan Daily, Zeng menyatakan bahwa keberhasilan pemuliaan varietas sawit lokal akan mengubah kondisi industri minyak sawit China yang selama ini sangat bergantung pada negara lain.
Perjalanan panjang ini menunjukkan keseriusan China dalam membangun kemandirian minyak nabati. Dari tanaman hias yang nyaris dilupakan, kelapa sawit kini diposisikan sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk ketahanan pangan dan energi negeri Tirai Bambu. (T2)
Sumber: Majalah InfoSAWIT Edisi Maret 2022









