sawitbaik

Produktivitas Jadi Penentu Daya Saing Sawit Malaysia



Dok. InfoSAWIT/Ilustrasi Tandan Buah Segar (TBS) Sawit.
Produktivitas Jadi Penentu Daya Saing Sawit Malaysia

SAWITBAIK.ID, KUALA LUMPUR — Masa depan daya saing dan keberlanjutan industri kelapa sawit Malaysia kian ditentukan oleh kemampuan meningkatkan produktivitas. Pertumbuhan produksi yang stagnan mulai membatasi pasokan, sebuah kekhawatiran yang menurut pelaku industri telah disuarakan selama puluhan tahun.

Ketua Malaysian Palm Oil Council (MPOC) Carl Bek-Nielsen menilai industri sawit terlalu lama membicarakan peningkatan hasil tanpa kemajuan signifikan. Bahkan, dalam beberapa kasus, produktivitas justru mengalami kemunduran. Menurutnya, kunci keberlanjutan bukanlah mengejar target ambisius, melainkan menetapkan sasaran yang realistis dan bisa dicapai.

“Jika produktivitas rendah dan harga komoditas turun, itu resep menuju bencana. Sebaliknya, dengan produktivitas tinggi, industri punya bantalan saat harga melemah,” ujar Bek-Nielsen dilansir InfoSAWIT dari The Edge Markets, Senin (5/1/2026).

Wawancara tersebut menjadi yang pertama bagi Bek-Nielsen sejak menjabat sebagai Ketua MPOC pada Mei 2023. Warga negara Denmark yang berstatus penduduk tetap Malaysia ini telah lebih dari 30 tahun berkecimpung di industri sawit. Ia memulai kariernya di United Plantations Bhd pada 1993 sebagai cadet planter dan menjabat CEO grup tersebut sejak Januari 2013.

Bek-Nielsen menilai target nasional untuk mendorong produktivitas ke level enam hingga tujuh ton crude palm oil (CPO) per hektare tidak realistis, mengingat dominasi tanaman tua dan lambatnya peremajaan, terutama di kalangan petani kecil. Pada 2024, rata-rata produktivitas CPO nasional tercatat hanya 3,28 ton per hektare.

Sebagai gantinya, ia mengusulkan pendekatan bertahap dengan target yang lebih masuk akal, yakni sekitar 4,5 ton per hektare pada 2035. Menurutnya, capaian tersebut sudah akan menjadi lompatan besar bagi industri sekaligus memperkuat posisi Malaysia dalam menghadapi European Union Deforestation Regulation (EUDR), karena produktivitas yang lebih tinggi mengurangi kebutuhan ekspansi lahan dan menjawab isu deforestasi.

“Kita harus keluar dari kisaran 3,3 ton per hektare dan perlahan naik ke 4,5 ton. Jika Malaysia bisa mencapai angka itu, itu pencapaian luar biasa dan realistis untuk dikerjakan bersama,” tegasnya.

Ia menjelaskan, dengan produktivitas 4,5 ton per hektare, industri akan menggunakan input dan tenaga kerja yang sama, tetapi menghasilkan output jauh lebih besar. Dampaknya tidak hanya pada efisiensi lahan, tetapi juga pada peningkatan pendapatan, penerimaan pajak, dan profitabilitas perusahaan.

“Jika kita bisa menambah 1,2 ton per hektare, Malaysia akan memproduksi sekitar tujuh juta ton minyak tambahan dibandingkan sekarang. Dan semua itu tanpa membuka lahan baru. Dari perspektif keberlanjutan, inilah isu paling krusial,” katanya.

Bek-Nielsen menegaskan tidak ada solusi tunggal untuk meningkatkan produktivitas. Dibutuhkan pendekatan terpadu dan berkelanjutan, dimulai dari peremajaan tanaman tua dengan material tanam berdaya hasil tinggi, diikuti penerapan praktik agronomi yang lebih baik.

“Kita perlu pendekatan yang sistematis dan disiplin, dari atas ke bawah. Replanting harus dimulai, lalu diikuti pemahaman agronomi yang lebih baik. Menggunakan benih unggul adalah keharusan—memakai benih inferior hanya akan mengulang hasil yang sama,” ujarnya.

Dorongan meningkatkan produktivitas juga muncul di tengah pengetatan pasokan global. Indonesia, produsen sawit terbesar dunia, terus mengalihkan volume besar produksi ke program biodiesel B40 dan rencana B50, sekaligus memperketat penertiban kebun ilegal. Jika tren ini berlanjut, Bek-Nielsen memperingatkan potensi keketatan pasokan global dalam enam hingga sembilan bulan ke depan.

“Sepuluh tahun lalu, Indonesia mengonsumsi sekitar tujuh juta ton sawit. Kini angkanya bisa mencapai 24 juta ton, sebagian besar untuk biodiesel. Dinamika pasar berubah karena volume minyak nabati untuk ekspor tidak lagi sebesar dulu,” katanya.

Pada 2024, Indonesia dan Malaysia tercatat sebagai dua produsen sawit terbesar dunia dengan produksi masing-masing 48,16 juta ton dan 19,34 juta ton.

Tantangan lain yang membayangi industri adalah kenaikan biaya input, terutama pupuk, suku cadang, dan logistik. Pengetatan aturan angkutan darat membuat kapasitas muatan berkurang dan memaksa penggunaan lebih banyak kendaraan untuk volume yang sama, sehingga biaya logistik melonjak.

Di tengah tekanan tersebut, MPOC menilai peningkatan produktivitas bukan sekadar pilihan strategis, melainkan prasyarat mutlak agar industri sawit Malaysia tetap kompetitif, berkelanjutan, dan relevan di pasar global. (T2)