sawitbaik

Manajemen Akar Kelapa Sawit, Inovasi Lama yang Kini Menawarkan Lompatan Produktivitas



Dok. InfoSAWIT/Ilustrasi Tandan Buah Segar (TBS) Sawit.
Manajemen Akar Kelapa Sawit, Inovasi Lama yang Kini Menawarkan Lompatan Produktivitas

SAWITBAIK.ID, JAKARTA Upaya meningkatkan produktivitas kelapa sawit sejatinya bukan wacana baru. Gagasan tersebut telah melalui proses perenungan panjang sejak dekade 1990-an, namun baru benar-benar dirangkum secara utuh dalam buku berjudul Manajemen Akar pada Kelapa Sawit. Buku ini menjadi penanda penting bahwa peningkatan produktivitas sawit tidak selalu harus rumit, selama pendekatan teknisnya tepat.

Pemikiran dasar buku ini telah tersirat sejak terbitnya Kelapa Sawit, Teknis Agronomi dan Manajemennya yang diterbitkan Lembaga Pupuk Indonesia pada era 1990-an hingga 2007. Gagasan tersebut kemudian diperbarui dalam buku dengan judul serupa yang diterbitkan Media Perkebunan pada 2013, dan dilanjutkan melalui buku Budi Daya Kelapa Sawit, Hasil Selangit secara Berkelanjutan pada 2018. Meski ide peningkatan produktivitas telah disinggung dalam ketiga buku tersebut, belum banyak pihak yang benar-benar membedah dan mengembangkannya lebih jauh.

Melalui Manajemen Akar pada Kelapa Sawit, catat Dr. Memet Hakim, konsep tersebut disajikan secara lebih fokus dan sistematis. Buku ini memperkenalkan sebuah inovasi rekayasa teknik agronomi yang dirancang untuk mendongkrak produktivitas tanaman sawit secara signifikan. Metode yang ditawarkan diklaim mampu meningkatkan produksi tandan buah segar (TBS) hingga 30–80 persen, sebuah angka yang mencerminkan potensi besar jika diterapkan secara konsisten di lapangan.

Inovasi ini telah dicatatkan Hak Ciptanya sejak 2015. Pendekatan yang digunakan dikenal sebagai Production Force Management, yang berlandaskan pengelolaan akar dan kanopi tanaman secara terpadu. Dengan asumsi potensi produktivitas benih unggul terbaik berada pada kisaran 40 ton TBS per hektare per tahun, penerapan metode ini berpotensi mendorong hasil hingga sekitar 52 ton TBS per hektare per tahun.

Lonjakan tersebut tidak hanya berdampak pada produksi buah, tetapi juga pada total biomassa tanaman. Kelapa sawit yang dikelola dengan pendekatan manajemen akar mampu menghasilkan biomassa sekitar 70 ton per hektare per tahun, termasuk pelepah dan bunga. Angka ini mendekati biomassa tanaman tebu yang berkisar 100 ton per hektare per tahun, bahkan melampaui potensi tanaman singkong yang kerap dianggap sebagai “tanaman tambang” oleh sebagian kalangan.

Melalui buku ini, penulis ingin menegaskan bahwa peningkatan produktivitas kelapa sawit bukanlah sesuatu yang sulit dicapai. Kuncinya terletak pada keberanian untuk membuka pendekatan lama, memahami proses fisiologi tanaman secara lebih mendalam, serta menerapkannya secara disiplin di lapangan. Jika dijalankan dengan benar, manajemen akar berpotensi menjadi salah satu jawaban penting bagi tantangan produktivitas sawit nasional ke depan. (T2)