sawitbaik

Ekonomi Sri Lanka Bangkit, Industri Pangan Dorong Permintaan Minyak Sawit



Dok. InfoSAWIT/Ilustrasi minyak sawit mentah (CPO).
Ekonomi Sri Lanka Bangkit, Industri Pangan Dorong Permintaan Minyak Sawit

SAWITBAIK.ID, KUALA LUMPUR — Pemulihan ekonomi Sri Lanka mulai menunjukkan arah yang semakin solid. Produk domestik bruto (PDB) negara Asia Selatan itu diproyeksikan tumbuh 3,3 persen pada 2025 dan diperkirakan melampaui 4 persen pada 2026, ditopang oleh sektor pariwisata, konsumsi domestik, serta daya saing ekspor.

Geliat ekonomi tersebut turut mengubah lanskap sektor pangan. Urbanisasi, perubahan pola konsumsi, serta pertumbuhan sektor hotel, restoran, dan katering (HORECA) mendorong permintaan terhadap bahan baku pangan yang efisien dan andal, terutama minyak dan lemak nabati.

Saat ini, konsumsi minyak dan lemak pangan Sri Lanka berada di kisaran 230.000–250.000 ton per tahun. Namun, produksi domestik hanya mampu memenuhi sekitar 65.000–70.000 ton, sehingga defisit pasokan harus ditutup melalui impor. Dalam struktur ini, minyak sawit menempati posisi strategis setelah minyak kelapa.

Minyak sawit asal Malaysia memantapkan diri sebagai pilihan utama bagi industri makanan Sri Lanka. Selain menjamin kesinambungan pasokan, sawit Malaysia juga membuka peluang pengembangan produk bernilai tambah, seperti specialty fats dan bahan fungsional untuk industri pangan modern.

 

Pasar Makanan Praktis dan Layanan Antar Melonjak

Pertumbuhan sektor pangan kian menguat seiring pesatnya pasar makanan praktis dan layanan pesan-antar. Data Statista menunjukkan, pasar makanan praktis Sri Lanka diproyeksikan menghasilkan pendapatan sekitar US$2,64 miliar pada 2025, dengan pertumbuhan tahunan rata-rata 7,91 persen hingga 2029.

Pada saat yang sama, pasar layanan pesan-antar makanan daring diperkirakan mencapai €968,10 juta pada 2025, dengan CAGR 16,05 persen pada periode 2025–2028. Perubahan perilaku konsumen ini memperkuat prospek industri jasa boga sekaligus meningkatkan kebutuhan minyak sawit untuk kebutuhan pengolahan pangan.

Meski volumenya relatif kecil, Sri Lanka dikenal sebagai pasar sawit yang stabil dan konsisten, dengan impor tahunan berkisar 80.000–100.000 ton. Produk refined, bleached, and deodorised (RBD) palm olein masih menjadi tulang punggung sektor HORECA, sementara minat terhadap specialty fats untuk bakery dan produk non-dairy mulai tumbuh, membuka ruang diversifikasi bagi pemasok sawit dari Asia Tenggara. (T2)