SAWITBAIK.ID, KARACHI — Pakistan semakin menegaskan perannya sebagai salah satu pasar strategis bagi minyak sawit Indonesia. Negara Asia Selatan itu kini menempati posisi ketiga tujuan ekspor sawit Indonesia setelah Tiongkok dan India, seiring tren pertumbuhan ekspor yang terus meningkat.
Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri menyampaikan penguatan hubungan dagang ini dalam ajang Indonesian Palm Oil Networking Reception di Karachi, Pakistan, Jumat (9/1/2026).
“Selama lima tahun terakhir, ekspor minyak sawit Indonesia ke Pakistan tumbuh rata-rata delapan persen per tahun. Pemerintah terus mendorong penguatan kerja sama perdagangan agar manfaatnya makin dirasakan masyarakat di kedua negara,” ujar Roro dalam keterangan resmi, Selasa (13/1/2026).
Acara tersebut turut dihadiri Menteri Perdagangan Pakistan Jam Kamal Khan, Duta Besar RI untuk Pakistan Chandra W. Sukotjo, unsur pemerintah Indonesia, hingga pelaku usaha kedua negara. Hadir pula Ketua Umum GAPKI Eddy Martono serta asosiasi pengolah minyak nabati Pakistan.
Dalam momentum itu, Indonesia dan Pakistan menandatangani Nota Kesepahaman pembentukan Joint Trade Committee (JTC). Forum ini akan menjadi kanal reguler untuk memperkuat promosi perdagangan, memfasilitasi pelaku usaha, mendukung UMKM, serta mempercepat penyelesaian isu teknis perdagangan.
Wamendag Roro menjelaskan JTC juga merupakan tindak lanjut dari kunjungan Presiden RI ke Pakistan pada Desember 2025, yang mendorong peningkatan skema Indonesia–Pakistan Preferential Trade Agreement (I-P PTA) menuju Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) pada 2027.
Di Pakistan sendiri, minyak sawit tercatat sebagai minyak nabati paling banyak dikonsumsi. Selama 15 tahun terakhir, impor minyak sawit juga konsisten mendominasi bauran minyak nabati, melampaui kedelai, rapeseed, dan bunga matahari.
Indonesia pun disebut memasok sekitar 85–89% dari total impor minyak sawit Pakistan, yang menegaskan posisi Indonesia sebagai pemasok utama.
Roro menegaskan, penguatan mandatori biodiesel di dalam negeri, termasuk persiapan menuju B50, tidak akan mengganggu ekspor karena Indonesia tetap menjaga keseimbangan pasokan domestik dan kebutuhan pasar internasional.
“Minyak sawit lebih dari sekadar komoditas. Ia adalah jembatan yang menghubungkan perekonomian, memperkuat industri, dan memperdalam hubungan antarmasyarakat,” kata Roro. (T2)
Sumber: InfoSAWIT










