SAWITBAIK.ID, KUALA LUMPUR — Pergerakan harga kontrak berjangka minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia masih diprediksi berada dalam tekanan. Penyebab utamanya, produksi yang belum melandai sehingga mendorong stok meningkat dan membuat harga sulit bergerak naik secara signifikan.
Menurut Reuters, sebagaimana dipublikasikan secara daring oleh InfoSAWIT, analis industri Dorab Mistry menilai tekanan di pasar berjangka masih akan berlanjut karena investor dana mulai keluar dari pasar.
“Kontrak berjangka sawit di Bursa Malaysia sedang tertekan. Investor dana telah keluar dari pasar. Kelemahan ini kemungkinan bertahan sampai produksi benar-benar menurun,” ujar Mistry dalam konferensi industri di Karachi, Pakistan, Sabtu lalu.
Harga kontrak acuan CPO untuk pengiriman Maret di Bursa Malaysia Derivatives Exchange tercatat ditutup pada level 4.043 ringgit per ton pada Jumat. Harga tersebut sempat menyentuh titik terendah dalam lebih dari enam bulan pada Desember 2025.
Sebelumnya, pada November, Mistry sempat memperkirakan harga berjangka sawit bisa melonjak hingga 5.500 ringgit per ton pada periode Januari–Maret. Proyeksi itu didorong potensi kebijakan Indonesia, termasuk penertiban lahan sawit serta isu penguatan campuran biodiesel menuju B50.
Namun seiring perkembangan terbaru, proyeksi tersebut bergeser. Produksi minyak sawit disebut meningkat sekitar 1 juta ton dari perkiraan awal, yang akhirnya mengangkat stok dan menahan laju harga.
Di sisi lain, permintaan biofuel global juga dinilai belum sesuai harapan, terutama dari Amerika Serikat. Kondisi itu semakin memperkuat tekanan di pasar CPO meskipun harga sawit telah kembali kompetitif dibanding minyak nabati lain seperti minyak kedelai maupun minyak bunga matahari.
Ke depan, produksi sawit Malaysia diperkirakan mulai menurun setelah 2025 menjadi tahun pertama produksi menembus 20 juta ton. Sementara itu, kebijakan penertiban lahan di Indonesia disebut berpotensi memengaruhi produksi pada paruh kedua 2026. (T2)
Sumber: Reuters










