SAWITBAIK.ID, JAKARTA — Ketahanan energi dan pangan nasional tidak selalu dibangun dari kebijakan besar di hilir. Dalam banyak kasus, fondasinya justru diletakkan jauh dari sorotan publik—melalui riset genetika dan eksplorasi sumber daya hayati. Inilah jalur yang kini ditempuh Indonesia lewat penguatan Strategic Genetic Diversity (SDG) kelapa sawit.
Langkah ini dinilai krusial untuk memastikan kesinambungan pasokan minyak sawit, baik untuk kebutuhan pangan maupun energi. Dalam jangka pendek, riset genetika membuka akses terhadap sumber genetik baru bagi perakitan varietas unggul. Namun dalam perspektif jangka panjang, dampaknya menyentuh ketahanan nasional dan daya saing Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia.
“Ini bukan sekadar riset, tetapi investasi masa depan industri sawit Indonesia,” ujar Edy Suprianto, Senior Vice President Business Development PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN). Menurutnya, produktivitas sawit harus dijaga lintas generasi, bukan hanya untuk kebutuhan hari ini.
Salah satu tonggak penting dari agenda ini adalah proyek eksplorasi genetik sawit di Tanzania, Afrika Timur. Proyek tersebut mencatat sejarah baru karena untuk pertama kalinya mendapat dukungan langsung dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Dukungan itu mencakup pendanaan riset, fasilitas karantina, hingga beasiswa magister bagi peneliti Tanzania Agricultural Research Institute (TARI).
Kolaborasi lintas negara ini menegaskan bahwa pembangunan sawit berkelanjutan tidak cukup mengandalkan perluasan areal atau peningkatan efisiensi produksi semata. Ketika ruang ekspansi semakin terbatas dan tuntutan keberlanjutan global kian ketat, penguasaan sumber genetik menjadi penentu arah masa depan industri.
Perjalanan riset sawit Indonesia sendiri mencerminkan proses panjang tersebut—dari laboratorium sederhana di Deli pada masa awal pengembangan sawit, hingga kini menjangkau eksplorasi lintas benua ke Afrika Timur. Arah kebijakannya kian jelas: keberlanjutan bukan hanya soal volume produksi, melainkan tentang pengetahuan, inovasi, dan konservasi sumber daya genetik. (T2)










