SawitBaik, NEW DELHI — Maraknya label “No Palm Oil” pada produk pangan kemasan di India memunculkan perdebatan baru soal literasi gizi dan etika pemasaran. Di tengah meningkatnya kesadaran konsumen terhadap kesehatan, kalangan industri justru mengingatkan bahwa narasi “bebas sawit” berpotensi membangun stigma yang tidak sepenuhnya berbasis sains.
Indian Food and Beverage Association (IFBA) menilai tren tersebut lebih didorong oleh strategi diferensiasi pasar ketimbang klaim nutrisi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Organisasi ini menegaskan bahwa minyak sawit telah lama menjadi bagian dari pola konsumsi masyarakat India dan masih memainkan peran penting dalam sistem pangan nasional.
Ketua IFBA, Deepak Jolly, menilai pelabelan semacam itu berisiko menyederhanakan isu gizi yang kompleks. Ia merujuk pada pedoman resmi pemerintah India yang menekankan pentingnya keseimbangan asupan lemak, bukan penghapusan satu jenis minyak secara sepihak.
Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, IFBA menyoroti kecenderungan konsumen mengambil keputusan berbasis persepsi populer. Padahal, minyak sawit dikenal memiliki stabilitas tinggi, harga terjangkau, serta daya simpan yang baik—karakteristik yang membuatnya tetap relevan dalam industri pangan global.
Kekhawatiran IFBA juga menyentuh dimensi strategis. Dengan konsumsi minyak nabati nasional yang mencapai sekitar 26 juta ton per tahun—hampir sepertiganya berasal dari sawit—narasi negatif dinilai dapat melemahkan upaya India mengurangi ketergantungan impor.
Pandangan serupa disampaikan Direktur Scientific and Regulatory Affairs IFBA, Shilpa Agrawal. Ia mengutip Dietary Guidelines for Indians 2024 yang mengakui kandungan tocotrienol dalam minyak sawit, senyawa yang berkontribusi pada kesehatan jantung dan pengelolaan kolesterol.
IFBA pun mengapresiasi kebijakan pemerintah melalui program National Mission on Edible Oils–Oil Palm (NMEO-OP) yang bertujuan memperkuat produksi domestik. Menurut asosiasi tersebut, edukasi konsumen berbasis sains menjadi kunci agar label pangan tidak berubah menjadi alat pemasaran yang menyesatkan. (T2)










