SawitBaik, JAKARTA — Upaya memastikan rantai pasok minyak sawit bebas deforestasi kini memasuki fase yang semakin transparan. Perusahaan makanan dan minuman global Nestlé meluncurkan transparency dashboard untuk memperbarui para pemangku kepentingan terkait kemajuan, pembelajaran, sekaligus tantangan dalam mewujudkan sawit bebas deforestasi di seluruh rantai pasoknya.
Merujuk paparan perusahaan, sebagian besar data dalam dashboard tersebut bersumber dari Starling, sistem pemantauan berbasis satelit yang digunakan Nestlé sejak 2019 untuk mengawasi seluruh rantai pasok minyak sawit globalnya. Sistem ini dikombinasikan dengan investigasi lapangan yang dilakukan bersama mitra dan pemasok.
Sejak 2017, Starling membantu perusahaan memahami pola deforestasi yang kompleks di wilayah penghasil sawit, mulai dari lokasi kejadian, faktor pendorong utama, hingga aktor yang terlibat. Data tersebut digunakan untuk mengidentifikasi risiko di sekitar pabrik pemasok, memprioritaskan tindakan, sekaligus memetakan potensi risiko deforestasi di masa depan.
“Pendekatan berbasis data memungkinkan kami berinteraksi dengan pemasok secara lebih konstruktif dan faktual,” ujar Benjamin Ware, Global Head of Responsible Sourcing Nestlé dilansir dari laman resmi Nestlé, Kamis (1/1/2026). Ia menjelaskan, ketika sistem mendeteksi peringatan, perusahaan langsung melibatkan pemasok terkait untuk memastikan apakah temuan tersebut berkaitan dengan rantai pasok Nestlé serta langkah mitigasi yang dilakukan.
Jika diperlukan, Nestlé bersama Earthworm Foundation dan pemasok mengirim tim ke lapangan untuk memverifikasi citra satelit. Hasil investigasi menjadi dasar pengambilan keputusan, termasuk kemungkinan penghentian kerja sama bila ditemukan pelanggaran.
Data Starling juga mengungkap tantangan besar. Meski tingkat deforestasi menurun di beberapa wilayah, hutan tetap berada dalam tekanan. Pada 2021, tercatat hampir 97.000 peringatan deforestasi secara global dalam radius 50 kilometer dari pabrik pemasok Nestlé, setara dengan kehilangan sekitar 435.000 hektare hutan. Namun, peringatan tersebut tidak otomatis berarti terkait langsung dengan sawit atau rantai pasok perusahaan, sehingga perlu pendalaman lebih lanjut.
Temuan lain menunjukkan pergeseran pola deforestasi ke skala kecil. Lebih dari separuh kehilangan hutan sejak 2016 terjadi akibat pembukaan lahan di bawah lima hektare, mengindikasikan meningkatnya tekanan dari aktivitas skala kecil, termasuk petani kecil.
Berangkat dari pembelajaran tersebut, Nestlé meluncurkan Forest Positive Strategy pada 2021, berfokus pada konservasi dan restorasi hutan, peningkatan transparansi rantai pasok, serta dukungan bagi petani kecil yang menyumbang sekitar 40 persen produksi sawit global. Perusahaan menegaskan, tanpa kolaborasi lintas pelaku dan dukungan kebijakan, target sawit bebas deforestasi sulit dicapai secara berkelanjutan. (T2)










