InfoSAWIT, JAKARTA – Merujuk informasi dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marvest) realisasi ekspor minyak sawit perlahan mulai meningkat seiring dengan perbaikan kondisi logistik. Bahkan alokasi ekspor yang diberikan sudah cukup tinggi sementara alokasi ekspor yang belum digunakan lebih dari 3 juta ton.
Kendati demikian Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengakui, tidak berbeda dengan negara lain di dunia, Indonesia saat ini dihadapkan pada tantangan ekonomi yang begitu berat.
“Dinamika yang terjadi begitu cepat dengan ketidakpastian yang sangat tinggi, termasuk dalam penanganan minyak kelapa sawit dan minyak goreng sawit,” katanya, dalam acara Orientasi Pembangunan Desa Berkelanjutan yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) dan Asosiasi Kabupaten Penghasil Sawit Indonesia (AKPSI), pada Sabtu (16/7/2022) di Jakarta.
Lebih lanjut kata Luhut, dirinya menegaskan bahwa meskipun harga minyak kelapa sawit dipengaruhi oleh kondisi internasional, tetapi Pemerintah memiliki instrumen kebijakan untuk mempengaruhi outcome di domestik maupun internasional. “Untuk itu setiap stakeholders perlu bekerja secara komprehensif dan terintegrasi,” katanya dalam keterangan tertulis diterima InfoSAWIT, Sabtu (16/7/2022).
Apalagi industri Kelapa Sawit di Indonesia merupakan salah satu industri strategis lantaran lebih dari 16.4 juta orang hidup dan bekerja di industri ini, serta merupakan penghasil ekspor terbesar. Oleh karena itu, perbaikan tata kelola yang berjalan saat ini menjadi langkah penting untuk mengoptimalkan peran kelapa sawit bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan ekonomi nasional.
Menko Luhut pua menekankan, bahwa kerja sama berbagai pihak merupakan bagian penting dari pelaksanaan perbaikan tata kelola sawit ke depan. Untuk itu, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Industri, dan masyarakat harus saling bekerja sama untuk terus membenahi berbagai permasalahan yang di hadapi. (T2)










