InfoSAWIT, MEDAN – Tatkala nilai mata uag ruiah melemah terhadap dollar yang mencapai Rp 15.000 per dollar AS, tak sontak meningkatkan nilai ekspor minyak sawit mentah (CPO) Provinsi Sumatera Utara (Sumut).
Diungkapkan, akademisi sekaligus ekonom Kota Medan, Gunawan Benjamin, pelemahan nilai matauang Rupiah tidak akan banyak mengerek perekonomian Sumut. Lantaran kata dia, sejauh ini ekspor banyak komoditas unggulan Sumut masih tersandera oleh serangkaian kebijakan pemerintah yang tengah mengendalikan harga minyak goreng sawit.
Sebab itu kata Gunawan, Provinsi Sumatera Utara telah kehilangan potensi pendapatan yang seharusnya bisa dioptimalkan saat terjadi pelemahan Rupiah. “Pendapatan yang saya maksud adalah dari sisi ekspor, termasuk ekspor produk turunan sawit dari Sumut,” kata dia kepada InfoSAWIT, Senin (11/7/2022).
Gunawan menjelaskan, jika Rupiah melemah maka hitungannya harga barang ekspor Sumut menjadi lebih mahal. Terlebih saat ini harga CPO berada dalam tren turun mendekati RM 4.000 per ton.
“Justru yang muncul saat ini adalah potensi kenaikan laju tekanan inflasi di Sumut akibat melemahnya mata uang Rupiah tersebut,” kata dia.
Sekadar informasi, setelah sempat melarang seluruh aktivitas ekspor produk turunan sawit, kini pemerintah membuka kembali keran ekspor tersebut.
Namun sayangnya, izin ekspor tersebut memiliki banyak persyaratan yang harus ditempuh para pengusaha sawit nasional.
Selain itu, yang membuat pengusaha semakin tertekan adalah beragam pungutan seperti bea keluar, pungutan ekspor, hingga flush out sebesar US$ 200 per ton. (T5)
Artikel ini telah tayang di sumatera.infosawit.com dengan judul © Rupiah Melemah, tapi Sumut Gagal Dapat Manfaat dari Ekspor CPO













